Teladan Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Teladan Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib 

Ali bin Abi Thalib, semoga ridha Allah senantiasa menyertainya, khalifah Ar Rasyidin yang keempat. Sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. Pembawa panji kehormatan dari Nabi di saat perang Khaibar. Satu asal sepuluh sahabat yg menerima agunan masuk nirwana

Sifat Ali Bin Abi Thalib Kepribadian Ali Bin Abi Thalib perilaku Khalifah Ali Bin Abi Thalib yang harus Kita Teladani sikap Ali yg Diteladani Kepemimpinan Khalifah All Bin Abu Thalib

Teladan Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib, semoga ridha Allah senantiasa menyertainya, khalifah Ar Rasyidin yg keempat. Sepupu sekaligus menantu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Pembawa panji kehormatan berasal Nabi pada waktu perang Khaibar. Satu asal sepuluh teman yg menerima jaminan masuk surga  dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Bahkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda ihwal dirinya,

أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي

“Kedudukanmu pada sisiku seperti kedudukan Harun pada sisi Musa. Hanya tidak ada nabi setelahku” (HR. Muslim no. 4418).

Ali bin Abi Thalib, semoga ridho Allah senantiasa menyertainya, terdidik dengan sifat-sifat yang luhur serta mulia. Di bawah asuhan Rasul shallallahu’alaihiwasallam. Pada antara perilaku tadi artinya, rasa tanggung jawab atau amanah yang nantinya akan sangat bermanfaat waktu dia menjadi pemimpin.

Baca Juga : 

Waktu Nabi shallallahu’alaihiwasallam hijrah ke Madinah, dia meminta Ali buat mengembalikan barang-barang titipan kaum Quraisy. Norma kaum Quraisy dahulu, mereka menitipkan barang berharga mereka pada orang yg dicermati amanah. Nabi shallallahu’alaihiwasallam orang yg dikenal jujur pada kalangan mereka. Sampai mereka menjuluki dia dengan “Al-Amin” (orang yang dapat dipercaya).

Ali pun menjalankan pesan Rasulullah tersebut dengan baik, sinkron yang perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. (Tarikh al Khulafa, hal. 157). Tekad dia dalam membumikan tauhid di muka bumi amat tinggi. Lihatlah bagaimana usaha beliau ketika hari-hari peperangan Khaibar. Dia membulatkan tekad buat permanen ikut dalam barisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menuju Khaibar. Padahal saat itu mata beliau sedang sakit parah. Bukan perjuangan ringan ketika harus berhadapan hembusan debu sahara serta jauhnya perjalanan.

Salamah bin al Akwa’ radhiyallahu’anhu, menceritakan ihwal kegigihan Ali radhiyallahu’anhu ketika itu, “Awalnya Ali berkeinginan buat tidak ikut ke Khaibar terlebih dahulu. Sebab sakit mata yg dideritanya relatif parah. Tetapi Ali berkata,

أنا أتخلف عن رسول الله

“tidak, saya tak ikut serta beserta Rasulullah”

Akhirnya Ali menetapkan buat bergabung ke pada barisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Kemudian di saat senja di hari-hari perang Khaibar, yang esuk harinya dibukalah kota Khaibar, Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لأعطين الراية أو قال ليأخذن غداً رجل يحبه الله ورسوله أو قال يحب الله ورسوله

“Esok hari, bendera ini akan aku  berikan pada seorang yg dicintai Allah dan  Rasul-Nya.” Atau dia bersabda, “beliau cinta kepada Allah serta Rasul-Nya“.

Ternyata Ali lah orang yg beruntung mendapatkan bendera tersebut. Kemudian Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberikan bendera tadi pada Ali. (Shahih Bukhari: kitab   al Maghozi 3: 137, pada Manhaj Ali fid Dakwati ilallah).

Beliau sosok pemimpin sederhana dan  dekat menggunakan masyarakat mungil. Kedudukannya menjadi khalifah tidak menghalanginya buat berbaur menggunakan warga . Pernah suatu waktu dikisahkan, beliau memasuki sebuah pasar, menggunakan mengenakan sandang 1/2 betis sembari menyampirkan selendang. Beliau mengingatkan para pedagang agar bertakwa pada Allah dan  amanah pada bertransaksi. Beliau menasihatkan, “Adilah pada hal dosis serta timbangan” (Siyar a’laam an nubala’ 28: 235).

Pada riwayat lain disebutkan, bahwa suatu hari beliau masuk pasar sendirian, padahal posisi beliau seorang Khalifah. Dia menunjuki jalan orang yg tersesat pada pasar serta menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Sambil menyambangi para pedagang, beliau mengingatkan mereka akan firman Allah ta’ala,

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu kami jadikan buat orang-orang yang tak ingin menyombongkan diri dan  berbuat kerusakan di (muka) bumi. Serta kesudahan (yang baik) itu ialah bagi orang-orang yang bertakwa” (Al Qashas: 83). “Ayat ini,” jelas Ali, “turun berkenaan orang-orang yg berbuat adil dan  tawadu’ (Tahdzib Bidayah wan Nihayah: 3: 282).

Indahnya, seseorang pemimpin menyambangi warga  kecil. Lalu mengingatkan mereka tentang akhirat. Karena kesejahteraan suatu negeri, tidak hanya berporos di hal-hal duniawi saja. Tetapi, korelasi rakyat dengan oleh Khalik adalah faktor utama kesejahteraan suatu bangsa. Dharar bin Dumrah menceritakan, waktu diminta teman Muawiyah radhiyallahu’anhu buat bercerita di hadapan dia ihwal kepribadian teman Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

“Ali” jelas Dharar, “ialah orang yg visinya jauh ke depan, lelaki yang kuat, bicaranya jelas, keputusannya adil, menguasai banyak cabang ilmu, dan  perkataannya bijak. Menjauh dari hingar-bingar global, bersahabat menggunakan sunyinya malam (buat beribadah), praktis menangis (sebab takut pada Allah), suka  sandang pendek (sederhana), makanannya kuliner warga  kecil. Beliau pada kalangan kami seperti sudah bagian asal kami. Bila dimintai beliau menyanggupi dan  Jika diundang dia datang. Tetapi kedekatannya dengan kami serta akrabnya kami dengan beliau, kami tetap merasa segan dengan beliau.

Ali merupakan pemimpin yang memuliakan para alim ulama, tidak menjauh dari orang-orang miskin. Pada kepemimpinan dia, orang yg kuat tidak mampu sekehendak melakukan kezaliman, serta orang yg lemah tidak risi akan keadilannya” (Al Khulafa ar Rasyidun: Ali bin Abi Thalib hal: 14-15).

Ketika menjadi khalifah, keadilan sahih-sahih beredar. Bahkan tidak hanya kaum muslimin yang mencicipi, orang-orang non muslim pula mencicipi keadilan tadi.

Di ketika Ali berada di Sifin, baju besi beliau diambil orang. Ternyata baju besi itu dibawa oleh seseorang Nasrani. Kemudian Ali mengajaknya mendatangi seseorang hakim, buat menetapkan kepemilikan baju besi tersebut. Hakim tadi artinya utusan Ali buat bertugas pada daerah tadi. Namanya Syuraih. Di hadapan sang hakim, orang Nasrani tetap tidak mengaku bila baju besi itu milik Ali.

“Baju besi ini milikku. Amirul Mukminin sedang berdusta”.

Kemudian Syuraih bertanya pada Ali radhiyallahu’anhu, “Apakah Anda memiliki bukti ya Amirul Mukminin?”

Ali pun tertawa suka , melihat sikap objektif yg dilakukan hakim ,”engkau  benar ya Syuraih. Aku  tidak ada bukti.” kata Khalifah Ali radhiyallahu’anhu.

Akhirnya hakim menetapkan baju besi tadi milik orang Nasrani. Sidang pun usai. Sesudah berjalan beberapa langkah, si Nasrani tadi mengatakan kepada Ali radhiyallahu’anhu,

“saya menyaksikan bahwa hukum yg ditegakkan ini merupakan hukumnya para nabi. Seorang Amirul Mukminin (penguasa kaum mukmin), membawaku ke hakim utusannya. Lalu hakim tadi memenangkanku! Saya bersaksi bahwa tidak ada dewa yang berhak disembah kecuali Allah, serta saya bersaksi bahwa Muhammad merupakan utusan Allah. Serta baju besi ini, sejujurnya, milik Anda wahai amirul mukminin.” kemudian Ali meng-hibahkan baju tadi untuknya (Tahdzib Bidayah wan Nihayah: 3: 281-282).

Demikian sekelumit tentang kepribadian amirul mukminin; Ali bin Abi Thalib saat pada masa kepemimpinan dia. Semoga menjadi pelajaran buat kita bersama.

Sumber : muslim.Or.Id

0 Response to "Teladan Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib "

Post a Comment